ANGKA penyakit tidak menular di masyarakat memang bertambah. Namun bukan berarti penyakit menular tidak memerlukan perhatian khusus.
Terlebih, prevalensinya terbilang masih cukup tinggi seperti tuberculosis (TBC) atau infeksi bakteri yang menyerang paru-paru.
Berdasarkan WHO Global TB Report 2018, diperkirakan insiden TBC di Indonesia mencapai 842 ribu kasus dengan angka mortalitas 107 ribu kasus. Jumlah ini membuat Indonesia berada di urutan ketiga tertinggi untuk kasus TBC setelah India dan China.
Berdasarkan WHO Global TB Report 2018, diperkirakan insiden TBC di Indonesia mencapai 842 ribu kasus dengan angka mortalitas 107 ribu kasus. Jumlah ini membuat Indonesia berada di urutan ketiga tertinggi untuk kasus TBC setelah India dan China.
Kondisi ini tentunya terbilang memprihatinkan karena berdampak besar terhadap sosial dan keuangan pasien, keluarga, serta masyarakat.
“TBC merupakan suatu penyakit menular dan masalah luar biasa bagi Indonesia karena menjadi catatan di global.
“TBC merupakan suatu penyakit menular dan masalah luar biasa bagi Indonesia karena menjadi catatan di global.
Penyakit ini dapat ditularkan secara mudah sehingga harus ada implementasi dan strategi nasional untuk mencegahnya,” ujar Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek saat ditemui Okezone dalam Seminar Nasional Penurunan Stunting dan Eliminasi TBC, Kamis (22/11/2018) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dilansir Judi Poker.
Risiko penularan TBC sebenarnya dapat dikurangi jika semua pasien terdiagnosis dan diobati sampai sembuh. Sayangnya, dari angka kasus yang dirilis oleh WHO, Balitbang Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru menemukan 53% atau 402.572 kasus yang ternotifikasi dan diobati. Sementara sisanya belum diobati atau sudah diobati namun belum dilaporkan kepada Kemenkes.
Risiko penularan TBC sebenarnya dapat dikurangi jika semua pasien terdiagnosis dan diobati sampai sembuh. Sayangnya, dari angka kasus yang dirilis oleh WHO, Balitbang Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru menemukan 53% atau 402.572 kasus yang ternotifikasi dan diobati. Sementara sisanya belum diobati atau sudah diobati namun belum dilaporkan kepada Kemenkes.
MKVPoker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKVPOKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Sebagian besar kasus TBC terjadi di usia produktif yaitu antara 15-54 tahun. Kondisi ini membuat pasien kehilangan waktu produktif karena kecacatan dan kematian dini yang berdampak pada kerugian ekonimi.
Diagnosis dan pengobatan tuberkulosis memang bebas biaya, namun pasien harus mengeluarkan biaya transportasi, akomodasi, dan gizi sewaktu menjalani pengobatan serta kehilangan penghasilan karena ketidakmampuan untuk bekerja.
Oleh karenanya, untuk mencapai eliminasi TBC yang ditargetkan pada tahun 2030, diperlukan strategi akselerasi melalui 6 langkah yaitu penguatan peran dan kepemimpinan program berbasis kabupaten/ kota, peningkatan akses layanan yang bermutu, pengendalian faktor risiko penularan TBC, peningkatan kemitraan peningkatan kemandirian masyarakat, penguatan manajemen program, serta penguatan sistem dan manajemen TBC melalui berbagai upaya termasuk penelitian dan pengembangan.
“Tuberculosis urusannya bukan pemerintah saja. Pemerintah ‘kan ngeluarin regulasi, tapi ‘kan yang melakukan terus yang di bawah (pemerintah).
Oleh karenanya, untuk mencapai eliminasi TBC yang ditargetkan pada tahun 2030, diperlukan strategi akselerasi melalui 6 langkah yaitu penguatan peran dan kepemimpinan program berbasis kabupaten/ kota, peningkatan akses layanan yang bermutu, pengendalian faktor risiko penularan TBC, peningkatan kemitraan peningkatan kemandirian masyarakat, penguatan manajemen program, serta penguatan sistem dan manajemen TBC melalui berbagai upaya termasuk penelitian dan pengembangan.
“Tuberculosis urusannya bukan pemerintah saja. Pemerintah ‘kan ngeluarin regulasi, tapi ‘kan yang melakukan terus yang di bawah (pemerintah).
Diperlukan intervensi sensitif untuk mengatasi masalah ini tapi kinerjanya juga harus dilakukan di luar Kementerian Kesehatan,” jelas Menkes Nila.
Diperlukan dukungan multi sektor untuk upaya pencegahan dan pengendalian fakto risiko TBC. Peran multi sektor sangat penting bagi keberhasilan pencapaian derajat kesehatan di masyarakat melalui intervensi sensitive yang melibatkan semua pihak.
Diperlukan dukungan multi sektor untuk upaya pencegahan dan pengendalian fakto risiko TBC. Peran multi sektor sangat penting bagi keberhasilan pencapaian derajat kesehatan di masyarakat melalui intervensi sensitive yang melibatkan semua pihak.
Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga sosial kemasyarakatan, akademisi, organisasi profesi, media massa, dunia usaha, serta mitra pembangunan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar