• Breaking News

    Rabu, 20 Februari 2019

    Obat Kanker Usus Tak Ditanggung, Kemenkes Beri Pukulan Emosional ke Masyarakat

    https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 21 481 2020912 obat-kanker-usus-tak-ditanggung-kemenkes-beri-pukulan-emosional-ke-masyarakat-OTGXA88HO1.jpg 

    Agen Judi Poker - KEMENKES memutuskan untuk menghapus obat kanker usus besar Bevacizumab dan Cetuximab per 1 Maret 2018 dari daftar obat yang ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Langkah Kemenkes ini pun menuai banyak kritik.

    Bila sudah diberlakukan pasien jelas akan kelimpungan, karena Bevacizumab dan Cetuximab dianggap paling manjur dalam mengatasi kanker usus besar stadium empat. 

    Karenanya, pemerintah didorong tetap mencari solusi terbaik untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien.

    Dijelaskan Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo, SpPd-KHOM, pada dasarnya Bevacizumab dan Cetuximab merupakan obat tambahan yang diberikan kepada pasien kanker usus besar, yang menjalankan kemoterapi. Dengan memberi obat tersebut diharapkan bisa menambah kualitas hidup pasien. 

    MKV Poker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
    [ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]

     



    "Dampaknya kepada masyarakat akan besar secara emosional, apalagi beritanya di-blow up di media. Bila tidak dicarikan solusi ya jelas semakin besar dampaknya," tutur Prof Aru, dilansir Agen Judi Poker.

    Selain itu, tambah Prof Aru, psikis pasien tentu akan terasa terganggu. Karena sebelumnya ada obat yang mudah didapat, tiba-tiba tidak ada. "Makanya perlu ada perbaikan dalam sistem yang telah dibuat pemerintah," tutur dia. 

    Bahkan untuk saat ini, kata Prof Aru, konon sedang dikembangkan versi obat yang mendekati generik, namun efektivitasnya belum teruji. 

    Sebagai dokter, dia berharap pemerintah harus tetap mencarikan jalan keluar atau solusi dalam memperbaiki sistem ini. Karena obat ini sejatinya sangat dibutuhkan oleh pasien kanker, khususnya peserta BPJS Kesehatan.

    "Saya harapkan pemerintah dapat memperbaiki sistem. Misalnya dengan urun bayar atau langkah lain. 

    Contoh saja di Thailand, obat ini tidak disediakan pemerintahnya secara umum. Tapi di sana pasien dikenai sistem premi berlapis jika ada permintaan khusus per kasus penyakit," simpulnya.


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar