Agen Judi Poker - Para ilmuwan China kembali memicu kontroversi di seluruh dunia setelah proyek rahasia mereka terkuak oleh media.
Tahun lalu, negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia, berhasil melahirkan bayi kembari hasil rekayasa genetik bernama Lulu dan Nana.
Gen kedua bayi mungil nan menggemaskan ini dimodifikasi di sebuah laboratorium canggih sehingga keduanya akan kebal terhadap beragam penyakit berbahaya, terutama HIV yang merupakan virus penyebab penyakit AIDS.
Namun sayang, eksperimen paling mutakhir ini diklaim memiliki efek samping yang tidak diprediksi sebelumnya yakni, meningkatnya memori dan kemampuan kognitif.
Gen kedua bayi mungil nan menggemaskan ini dimodifikasi di sebuah laboratorium canggih sehingga keduanya akan kebal terhadap beragam penyakit berbahaya, terutama HIV yang merupakan virus penyebab penyakit AIDS.
Namun sayang, eksperimen paling mutakhir ini diklaim memiliki efek samping yang tidak diprediksi sebelumnya yakni, meningkatnya memori dan kemampuan kognitif.
Penelitian menunjukkan bahwa menghilangkan gen CCR5 pada tikus telah
terbukti membuat mereka jauh lebih 'maju' secara intelektual. Alcino J.
MKV Poker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Silva, seorang neurobiolog di UCLA, menjelaskan kepada MIT Technology
Review, "Jawabannya mungkin saja benar, itu memang memengaruhi otak
mereka. Interpretasi paling sederhana adalah mutas ini mungkin akan
berdampak pada fungsi kognitif pada si kembar".
Terlepas dari pernyataan tersebut, para ahli juga menegaskan,
diperlukan penelitian bertahun-tahun untuk membuktikan dan melihat
perkembangan otak si kembar yang telah ditingkatkan.
Tapi, jika eksperimen ini dilakukan, banyak orang mengkhawatir bahwa
nantinya banyak negara-negara yang bersaing untuk menciptakan manusia
super dengan tingkat potensi kognitif yang tidak wajar.
"Mungkinkah pada satu titik di masa depan, kita dapat
meningkatkan IQ di atas rata-rata populasi? Aku tidak akan menjadi
ilmuwan jika berkata 'tidak'. Uji coba yang dilakukan pada tikus
laboratorium sudah menunjukkan kemajuan," beber Dr. Silva.
"Tapi tikus bukan manusia. Kami hanya tidak tahu apa
konsekuensinya jika hal ini diterapkan pada manusia. Kami belum siap
untuk itu," tutupnya. Demikian dilansir dari Agen Judi Poker.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar